Kamu Siapa?

Kamu Siapa?

Story Paisy


Bagian Satu

Kamis 13 Februari 06.35

Awal pagi yang sedikit buruk, tetapi tidak terlalu. Sedikit merasakan sesak di rongga dada, kesal, dan amarah—ku bergejolak. Namun keinginan memendam adalah kenyataan yang pahit. Ibu mengantarku ke sekolah dengan kuda mesin putih—cantik karena ia telah dibersihkan. Namun aku lihat sepanjang jalan, kuda-kuda itu saling beradu siapa yang paling cepat. 


Aku mengangkat sedikit kepala, melihat langit. Dia sama sepertiku, menahan. Menahan tangisannya bersama awan kalbu, bersama masalah yang kelam. Masalah yang aku pendam beberapa hari lalu kini terkenang jelas di mataku. Sungguh tersiksa, namun apa daya? Aku hanya perlu membiarkannya dan memendam lalu mereka akan pergi dibawa oleh sang waktu.


Saat kuangkat kakiku melangkah menuju gerbang, tik—tik—tik. Awan sudah menangis? sungguh cengeng.

Satu persatu air matanya mengenai rambut gelombangku, membuatnya sedikit bergerak. Aku mempercepat langkahku, melewati plafon di atas lapangan. Ku dengar tangisan sang hujan menggema di seluruh lapangan dengan keras. Aku mengambil headphone, memasangkannya.


“Memang kita hampir sama, Hujan. Tapi aku tak menangis seperti dirimu,” ucapku lirih sambil menaiki tangga. 


Lalu seseorang sengaja menarikku, hampir terjungkal ke belakang, “Pagi, jelek.” Ucapan dari seseorang entah siapa? Aku tidak mengenalnya.


“Lebih jelek yang mengejek.” Cibirku dengan kasar, mengabaikannya. Aku cepat-cepat menarik secuil kain seragamku darinya dan menaiki anak tangga.


“Tunggu!” Teriak si tanpa nama.


“Apa, sih?!” aku balas dengan jempol terbalik dan mata menyipit.


Aku menghela nafas, kelasku sudah di depan mata. Pintu yang dicat krem dan dinding dengan cat abu-abu baru, tapi bukan awan abu yang menemani sang hujan! Mungkin hampir mirip. Yah, benar. Sesuai dugaan dan selalu terjadi seakan takdir yang berputar-putar. Saat ku buka pintu, mereka melihatku dengan wajah bosan? Kesal? Aku pun tak tahu. Beberapa sengaja tak melirik sedikitpun karena tahu aku adalah si pemalas yang sombong julukan dari mereka. 


Baru saja setelah ku letakkan tasku di kursi. Tiba-tiba lelaki itu muncul lagi! Ya, si tanpa nama. Aku terkejut, ingin berteriak namun ku—tutup mulutku. Berbisik kesal, “bisa tidak menggangguku sekarang?!” aku hempaskan diriku ke kursi. Rasanya mengawali hari dengan berat yang sangat berat. aku tegakkan tangan kanan untuk menopang dagu—ku sambil mencoba mengabaikannya.


“Aku bosan. Sesekali ingin menjagamu,” jawabnya dengan suara malas, tapi kenyataannya ia sungguh-sungguh.


Aku hanya tersenyum masam, mengabaikannya, dan menyiapkan buku jam pertama—ku, matematika.


“Hei, jangan marah. Lihat sini, dong!” Ujarnya, memainkan helaian rambut—ku. Padahal sudah gelombang, tapi ia malah menggulung-gulung helaian itu. 


“Mau jadi penyalon, hah?!” Ucapku menepis tangannya. Tapi aneh, tangannya pudar? lebih tepatnya pucat, bahkan seperti bayangan…


Dia terkekeh, “Aku maunya jadi—” katanya dengan suara serak. Mataku terbelalak, langsung melongo ke arahnya. Si tanpa nama hanya tersenyum lugu.


“Sudah, diam coba!” bentakku. Dia balas dengan ketawa. Guru matematika sudah datang secepat kilat, walaupun ada kilat dia pasti menerjangnya.






Kamis 13 Februari 14.44

Sang hujan menangis lagi. Kini tangisannya lembut, namun raungannya menggema di plafon. Aku di samping pintu kelas, bersandar di dindingnya. Kelasku paling ujung, jadi langsung terdapat balustrade di samping. Melihat para dedaunan di pohon setinggi empat meter yang tak jauh. Mereka berjuang keras melawan derasnya tangis sang hujan bersama udara kasar yang menyatu. Suhu dalam tubuhku sangat hangat, namun beberapa rintik dingin membalut punggung tangan—ku. 


Aku pejamkan mata, mencoba menenangkan pikiran setelah pelajaran yang sangat panjang. Namun perlahan punggung tanganku terasa sangat hangat hingga menusuk kulit. 


“Kupikir ini akan membantumu,” suara lirih dan serak milik si tanpa nama.


Aku membuka mata perlahan. Seketika langsung rasa gugup menyelimuti. Wajahnya yang tampak rupawan nan cantik menatapku dengan lembut. Tangannya menyisir helaian rambut bergelombangku. 


“Siapa kamu sebenarnya?!” Teriakku sedikit keras namun semua orang tak memperdulikan, seakan dunia ini mati senyap, atau dibuat seakan milik kita, kita berdua saja…?


“Biar sang waktu memberi tahu—mu, oke?” Bisikan lembut di telinga terasa jelas bersama desiran tangis sang hujan.


“Kamu boleh memanggilku dengan sebutan apapun sampai kamu ingat aku, Elin” Dia menatap ke dalam, seolah mencari-cari ketakutanku.


Elin? Ah, nama panggilan yang tak asing. Diambil dari dari huruf tengah nama pertamaku, Fidelia Crystalline. Bahkan, sebelumnya tak ada yang memanggilku dengan sebutan itu. Tapi mengapa terasa familier?


Aku memperhatikan wajahnya, coba memberikan panggilan yang setara dengan wajahnya. Kulit putih pucat, mata elang dengan kedua bola mata sehijau batu zambrut yang selalu menatap tajam dan mendalam. Sinar matahari memancarkan rambut halus hitam kuat seperti akar, tidak juga.. tapi lebih mirip akar serabut hapus yang tertata rapih, memanjang sampai sebahunya. juga alis tebal. Apakah bagus kalau aku kasih dia panggilan ‘Darren’?


Si tanpa nama memasang wajah bangga dirinya, “sepertinya aku tampan sekali, yah? Kamu melihatku sampai segitunya.”


Aku terkekeh geli dan memutar bola mata. “Dih?! kamu yang terlalu percaya diri!”


“Tapi kenyataannya kan, memang tampan!” Dia mendengus kesal melipat kedua tangannya di dada.


“Ya, ya. Terserah Darren saja,” jawabku dengan sangat malas.


“Darren? Cukup bagus. Terima kasih, Fidelia Crystalline.” ia tersenyum sampai matanya terbentuk senyum, eyes smile. Kemudian berbalik, menuruni anak tangga.


“E-eh, iya! Kamu mau kemana?!” Teriakku, nyaris membuatnya sedikit jatuh namun… Darren menuruni anak tangga dengan lompatan kecil yang sebenarnya ia melayang. Bukan melompat dan turun menyentuh anak tangga tapi melompat dengan melayang! Sungguh aneh.


“Kenapa, Elin? takut kalau aku ninggalin kamu?” katanya dengan nada mengejek.


“Tidak, tidak.” Aku mengikutinya menuruni tangga, terhenti di lantai satu.


“Coba sekarang jelaskan dirimu!” Ngotot aku. Ingin sekali tahu siapa dia? Mengapa dia di sini? Apa dia anak baru? Wajahnya yang pucat dan mengapa dia bisa melayang?


“Kan. Kamu tidak dengar tadi,” ucapnya dengan kesal namun matanya sendu.


“Pantas, ucapanku yang tadi saja tidak didengar apalagi panggilanku yang tak terhitung jumlahnya.” Ketus Darren menusuk kebingungan dan ketidaktahuanku. Apakah dia pikir aku langsung bisa mengenali orang asing yang baru saja ia temui?


“Tunggu… panggilan? Kapan kamu manggil aku?” Tanyaku, itu menambah pertanyaan-pertanyaan di dalam otak. 

Oh, poor my brain…






Bagian Dua

Darren menghela nafas lalu berbalik, melangkah kecil. Sang hujan telah tenang, sekarang sang udara menggantikannya. Ia berhembus tenang, membelai rambutnya. Desiran lembut udara memenuhi telingaku, netraku hanya terus memandangnya dengan penuh tanya. Sedang, netranya memandangi lapangan yang sepi, hanya ditemani sepasang ring. 


“Hari ini mau bolos?” Tanya Darren menoleh ke arahku. Kedua mata kita saling bertatapan, dan salah satunya mengharapkan.


Netra birunya berharap agar aku mengatakan iya. Aku berjalan mendekat, sampai hanya berjarak belasan centimeter. “Iya. Asalkan kamu menjelaskan siapa dirimu!” kukatakan dengan tegas, bertatap langsung dengan mata sendunya 


Udara berhembus lebih keras dan terasa kasar, para daun pun ikut bersamanya, bahkan rambut gelombangku ikut bergoyang-goyang ke samping. Darren terkekeh, merapikan poniku. “Jangan buatku kesal, Liyen. Biar waktu yang memberitahumu,” suara lembut itu kian menjadi dingin dan menusuk yang membuat bulu kuduk—ku berdiri. 


Darren segera mengambil langkah panjang pelan, “Ayo, ikut. Akan aku tunjukkan sesuatu yang cantik.”


Aku hanya mengangguk, tak tahu harus berbuat apa. Karena disini, tempatku bersekolah seperti biasanya… terasa sangat asing. Aku mengikuti langkahnya, sedikit kewalahan dengan kaki yang menciptakan langkah panjang dan gesit. Sang udara selalu menemani kita berdua, menjadi penengah antara aku dan Darren. Aku ikuti terus langkahnya sambil melihat ke kanan dan kiri, mengamati bangunannya. Sama tapi, beberapa keanehan…


Oke, otakku tak berpikir kemana-mana, dan hanya mengarah kepadanya. Seperti… dihipnotis? Haha, tidak mungkin!


Dia membawaku ke belakang sekolah yang aku rasa tak ingat sama sekali bahwa ada sebuah tempat cantik. Di sana, terlihat seluruhnya di mata bak lukisan. Lukisan yang sangat cantik nan indah. Kesejukannya terpancar dari mereka. Itu lah spot pemandangan dari atas lembah mengarah ke pesisir yang disambut karpet biru tergulung-gulung, mereka para ombak laut. Netraku mengamati seluruhnya sembari angin menyapa seluruh badan. 


“Indah sekali!!” tak kuasa menahan senyum cerah, aku membentangkan tangan, menerima semua sapaan angin, juga desiran ombak menenggelamkan jiwa.


Darren menanggapi dengan senyuman. Lalu, dia menjatuhkan diri di atas himpunan para rerumputan. “Bagaimana?” 


Lantas kepalaku langsung menoleh ke arahnya. Melihat senyuman Darren entah membuat hatiku terasa hangat, sedikit.


“Bagaimana apanya?!” aku sipitkan mataku dengan respons tangan kiriku di pinggan.


Kedua tangan Darren terbaring di atas kepalanya, beralas rerumputan. Dengan perlahan bersamaan hembusan angin, terpejam lah sepasang netra biru. “Seharusnya, ini sudah bisa membuatmu berkata terima kasih padaku.” 


Satu alisku terangkat, hanya itu? pikirku hanya lah hal kecil. “Ya, terima kasih.”


tawa hambar tapi jelas menerima. “Haha, yes. You're welcome,” lagi-lagi dia terlena dengan sejuknya sarapan sang angin dingin… rambut hitam pekat bagai malam gelap bagai misteri yang tak bisa dipecahkan, tak bisa terungkap siapa dia sebenarnya. 


Aku tatap lebih jeli. Netra birunya tak terlihat, sekedar kelopak mata. “Hei, apa kamu tidur?” tanyaku, sembari duduk—meluruskan kedua kaki


Senyum tipis terbentuk di bibirnya, “tidak, kekasihku.” Dilanjut dengan kekehan kecil sembari punggung tangannya menutupi wajah.


Telingaku yang mendengar itu terasa geli di seluruh tubuh. Menghela napas dan memantapkan hatiku agar tak goyah, “tolong, panggil Liyen saja. Aku keberatan.” 


Ya, aku akui. Aku suka dipanggil itu. Rasa familiar tercampur lebur dalam hangat, hati meleleh di bawah panggilan Liyen.


“Siap, laksanakan! Tuan putri Liyen.” Candaannya semakin menggelikan saja. Benar-benar menyebalkan, tapi… entah mengapa hati ini menerimanya dengan senang? 


Baiklah, sudah cukup. Hentikan… dia saja, asal usulnya tidak jelas juga ditambah pucat. Hah… sedikit malu dan aneh masih terlihat jelas.


Aku jatuhkan tubuhku di atas rerumputan, memandang langit. Baru menyadari ini berbeda. Terasa aneh, langit serta suasana mencekam. Benar-benar berbeda, “entah… mengapa aku merasa asing disini?” ucapku perlahan, menunggu reaksinya.


Darren menoleh ke arahku, senyumannya itu lagi-lagi tenang. Layaknya danau tanpa riak, indah namun, tak ada yang tahu sesuatu tersimpan di dalamnya. “Mungkin karena kamu pertama kalinya bolos, kan?”


Aku menggeleng, benar-benar aneh. “Tidak. Kuperhatikan sedari tadi… cuacanya mendung, tapi kenapa tidak hujan?”


“Bukankah bulan Februari ini masih musim penghujan?” Darren bertanya kembali, sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.


Hati ini merasa janggal di sini… layaknya menapak di tanah yang salah. Layaknya bukan duniaku. Dia Penipu. Dia pembohong. Dia memanipulasi. Tapi siapa sebenarnya dia? Serbuan pertanyaan di kepala, tanpa jawaban.


Aku tidak suka jawabannya itu, merasa janggal, kesal, dan bingung. “Darren, serius. Kamu siapa? Jujur! Elvin.” Aku menegaskan, tanpa suara mengambang tidak jelas seperti balon terbang tanpa arah, menuntut dia segera menjawab sejujur-jujurnya.


~ Bersambung ~


NOTE : Author sedang butuh lebih banyak istirahat, jadi dia akan lebih sedikit update.

Terima kasih telah membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lentera 1939

Perempuan Berseragam Biru