Perempuan Berseragam Biru
Perempuan Berseragam Biru
Story Paisy
Jumat 7 Maret 11.20
Hosh, hosh, hosh! Duh katanya mau nyamperin Pak Jujur, malah pulang…
Aku berjalan cepat keluar gebrang sekolah, mencari-cari temanku, Sinta. Kedua netraku melihat ke sana-kemari, tak terlalu ramai karena sudah banyak yang pulang.
Masa jajan, sih?! Gak mungkin. Kan, puasa!
Hampir aku berjalan lebih jauh, tapi sekilas aku lihat perempuan lebih tinggi dari seusianya sedang duduk bersama temannya di kursi panjang sebelah warung. Aku dengan cepat menghampirinya.
“Sinta!! Latihan or tidak?” tanyaku dengan nafas memburu, sedikit lebih tenang. Dia merespon terkejut sekali! Hampir melompat.
Sinta manggut-manggut sambil menatap hpnya, sedang diberi pengarahan hello talk oleh temannya, Pia. “Oh, iya. Sebentar, aku lagi chat orang Cina di Hello Talk.”
Aku mengangguk pelan, sedikit memperhatikan aplikasi itu. Memang sudah populer yang hampir sama dengan Telegram, Kakaotalk, Yeetalk, dan masih banyak lagi. Selesainya pengarahan dari Pia, mereka berdua langsung berdiri. “Yok!” ajak Sinta.
“Aku pulang dulu, ya. Jangan kangen, haha!” Pia melambaikan tangannya, berjalan pergi. “Hoek…” candaan yang selalu aku ucapkan.
~~~
Aku melepas ikat sepatuku dengan gampang. Namun, agak sulit menarik kakiku keluar dari sepatu itu. Akhirnya, selesai. Ku buka pintu ruang guru, sedikit gugup… menurutku ruang guru adalah medan tempur kedua setelah ruang kelas. Karena di sana, para guru membicarakan siswa-siswinya. Baik atau buruknya sifat mereka, pintar atau bodohnya, juga kebiasaannya. Aku yang sedikit terganggu dengan rumor-rumor, sangat kewalahan menghadapi itu, baik rumor yang bagus-bagus, atau lebih parah rumor buruk. Itu semua sama saja, termasuk dosa ghibah kalau menyebarkan rumor buruk.
Dingin AC langsung menyentuh kakiku yang dipeluk oleh kaos kaki hitam. Lantainya sangat dingin… suasananya tak begitu ramai, hanya satu dua siswi mengobrol dan setor hafalan pada bapak-ibu guru. Beberapa bapak guru sudah ingin bersiap-siap pergi ke masjid untuk sholat Jumat, termasuk Pak Jujur. Aku menoleh ke Sinta, memberi isyarat mendekat ke arahnya.
Saat ku berbalik melihat Pak Jujur, “Ada apa?” tanyanya ke arah ku.
"Anu… Pak, gimana untuk MC?” aku tanya balik, sedikit melirik ke Sinta.
Pak Jujur membereskan mejanya lalu berkata, “yah, kaliannya sudah hafal belum?”
Kini, Sinta yang menjawab. “Masih setengah, Pak.” Sinta mengaku sendiri, memang dianya belum terlalu hafal teks bahasa Arab.
Pak Jujur menghela nafas, kali ini sedikit lebih serius. Hanya tersisa dua bulan lagi acara pelepasan diadakan, dan MC menjadi yang lebih awal tampil. “Begini, Bapak tidak mau tahu. Kalian harus sudah hafal baru setor ke bapak, nanti gerakannya terakhiran saja. Pentingkan hafal dahulu pembukaannya.”
“Baik, Pak!” kami berdua serentak menjawab bersamaan.
Rasa tenang kembali pada hatiku tapi, beban hidup memang tak pernah lepas bahkan saat sudah keluar dari pintu ruang guru. “Aiya, mau latihan sekarang? Di mushola atas aja.”
Boleh juga. Aku ingin kabur dari latihan drama yang memuakkan!!
“Yaudah … Aku ambil hp dulu di kelas,” aku sembari menenteng sepatuku, tak ingin memakainya lagi karena di mushola pun akan dilepas. Sinta duluan pergi ke mushola, sedang aku naik tangga menuju kelas.
Tapi tak kusangka ternyata … aku ditahan di ruang kelas!! Ugh, mereka memaksa aku latihan narator dulu. Yaudah, aku turuti saja sampai mungkin aku menghabiskan waktu tiga puluh menit lebih …? Sebelumnya, aku sudah chat Sinta.
Sintaaaaa! Aku disuruh latihan drama dulu, gapapa nunggu bentar??? Kamu sambil hafalin ya😿👍
11.03
Iya, gapapa.
11.05
AKU OTW KE SANAAA.
11.38
Sesampainya aku di mushola atas, kita mulai pemanasan dengan bismillahirrahmanirrahim. Dan dilanjutkan salam pembuka. Beberapa menit setelahnya kami beristirahat sejenak menikmati sejuknya angin kipas walau tenggorokan kekeringan seperti di padang pasir.
"Haaah! Haus banget, beneran … mau minum, nih!!!” Aku berteriak kecil dan terkekeh.
“Udah biasa, aku jarang minum—makan kalo lagi liburan,” tambah Sinta ikut terkekeh kecil.
Kami lama-lama ngobrol sana-sini. Entah pelajaran, teman sekelas masing-masing, crush, lagu-lagu Idol Vtuber, juga tentang Kakak kelas … yang benar-benar seharusnya tak pantas untuk diceritakan, karena itu aibnya …
“Eh tau gak? Kan aku kebanyakan kenal sama Kakak kelas cewek. Nah, ada Kakak Kelas sembilan x pacaran!!” ujarnya dengan pelan dan menegangkan seolah-olah ingin mulai rumor buruk …
Mendengar kata itu langsung membuatku bisa menebak apa artinya. Tapi, ku pura-pura tak tahu saja, “terus?” tanyaku, terbesit rasa penasaran walau aku tak mau mendengar rumor-rumor buruk orang lain.
Sinta mendekat ke arahku, suasananya menjadi sedikit tegang. “Hadeuh … dia curhat sendiri ke aku. Dia pacaran sama anak SMA kelas dua, nah dia diajak jalan malem-malem. Gila, kan?” ujarnya dengan terang-terangan karena tak ada orang lagi selain kita berdua di mushola atas. Bahkan semuanya pun sudah pulang, jam tanganku menunjukkan pukul 12.55. dan yang sholat Jumat pun sudah bubar, aku ingin sholat dzuhur …
“Emang cowoknya cakep?” tanyaku sedikit merasa tak tenang.
Sinta menggelengkan kepalanya dengan cepat, “gak banget malah! Aku lihat di status WhatsAppnya.”
“Wah, aneh banget. Aku kira cowoknya putih, tinggi …” tambahku, aku ingin menyudahi pembicaraan tentang ini.
“Iyaaa!! Itu pendek, gendut, item! Terus abis itu si cowok hilang tanpa kabar, kayak ditinggalin dan gak tanggung jawab. Dia cerita ke aku dan ku lihat sendiri status WhatsApp Kak A upload foto si cowok dengan caption, “abang x kapan kabarin aku? Kok kamu ninggalin aku …” GITU!!!”
“Kakak Kelas kita kena pelet, kalik!” aku sedikit tertawa dengan asumsi liarku sendiri. Kini aku merasa hawanya lebih sesak dan aneh di sini… aku lihat jendela, awan mendung menghiasi langit dan mengubahnya menjadi abu pucat yang gelap. Tapi, hatiku tak ingin pulang, ada sesuatu bahkan mungkin seseorang yang menahannya…
“Eh, aku mau sholat. Kamu sholat, gak?” Tanyaku menyudahi topik itu.
Sinta menggeleng,“ aku di rumah aja.”
“Oke, aku wudhu di bawah dulu, ya!” aku keluar dari pintu geser mushola atas… hawanya sedikit lega namun, rasa dingin terus menyelimuti diriku. Aku menatap sejenak lapangan yang terlihat dari atas sini. Sepi sekali… bukankah sholat Jumat sudah selesai? Anak-anak kelasku juga seharusnya masih ada, mereka berniat untuk latihan drama lagi setelah anak laki-laki kembali.
Menuruni anak tangga merupakan salah satu hal yang kusukai, bisa dilakukan dengan cepat dan tangkas! Satu anak tangga sebelum menyentuh lantai aku berpegangan pada railing dan … yap, melompat!
Tuinggg! Gumamku dalam hati sedikit senang. Kakiku sudah mendarat selamat, juga netraku memandang anak tangga dan sedikit melirik ke ruangan di sebelah tangga. Itu mushola bawah … lampunya hanya satu yang menyala, sedangkan siang ini cuacanya sedikit gelap, jadi terlihat remang-remang …
Saat aku wudhu semuanya terlihat baik-baik saja, karena tak jauh di sebelah tempat wudhu terdapat kantin. Dan, ada bibi penjaganya di sana.
Huft … baik, baik, baik. Positif thinking selalu tertanam dalam benak ku. Sebelum aku naik tangga lagi, entah apa? Tiba-tiba ku lirik lagi ke mushola bawah. Sepi, dan meningkat gelap ruangannya, ditambah hawa sejuk yang menusuk kulit … bergegas aku angkat kakiku menaiki tangga menuju mushola atas.
“Sin, aku sholat duluan, ya!” aku menyapa Sinta yang sibuk dengan handphonenya, duduk di antara tangga atas.
Aku memulai sholat dengan khusyuk, mengharap ridho pada sang pencipta. Namun di tengah rakaat, telingaku seakan penuh, penuh bacaan Al-Qur'an … yang awalnya hanya satu, kian menjadi tiga suara. Suara perempuan, laki-laki, dan anak kecil. Tapi hati tetap kuat akan iman, melanjutkan sholat tetap menjadi tujuan niat.
Bukannya menurun suara mereka malah semakin tinggi, sampai sampai telingaku sakit. Tiba lah saat aku duduk tahiyat akhir. Dari ekor mataku sekilas terlihat seragam biru bersandar di dinding dari sebrangku, aku sedikit lega karena itu Sinta.
“Assalamualaikum warahmatullah … ” selesai salam, aku tengok kanan-kiri, Sinta tak ada di seberangku. Melainkan ada di belakangku … jadi, tadi siapa?
“Sinta, kapan kamu di sini? Bukannya kamu di luar, ya …” sambil melipat mukena, kucoba bertanya untuk menghilangkan rasa tegang, karena suara mereka masih jelas.
“Barusan, Kok! Ayo pulang! Udah gelap nih, mendung.” Ajak Sinta. Suaranya mengandung ajakan serius agar aku, Sinta, kita berdua cepat pergi, pulang.
“Iya, iya, sebentar.” Tanganku gercep memasukan mukena ke dalam tas, merapikan kerudung di depan cermin bundar. Huft … untung tak ada siapa pun yang terlihat, hanya aku. Tapi suara bacaan Al-Qur'an itu masih terdengar walau suaranya sudah turun.
Terasa dingin, apa karena mendung? Tidak. Dinginnya dekat kakiku … tak sengaja netraku mengarah ke bawah, penasaran lah hati ini yang membawa cemas semakin tinggi. Ya, benar. Anak kecil itu tepat bersandar di dinding depan kaki kananku persis. Hanya sekelebat, dia hilang.
Hah … syukurlah aku, dan Sinta sudah keluar dari sekolah. Dan di sini lah aku memberanikan diri membicarakan hal tadi. “Sin, tadi aku digangg—”
Sinta langsung mengangguk, memotong perkataanku. “Iya, tau. Mangkanya aku nyamperin kamu.”
Sepanjang perjalanan keluar gang ke jalan raya, kami membicarakan mereka. Ternyata Sinta sudah terbiasa melihat makhluk seperti itu … yah, aku juga tapi, tidak nyata.
Aku menghela napas, pasrah karena pertama kali diganggu langsung seperti itu. “Jadi, apa alasannya?”
Sinta berpikir sejenak, “mungkin … menurut mereka, karena kamu polos.”
…
Hari-hari kemudiannya aku dan Sinta tetap latihan MC secara terus-menerus di sana, di mushola. Alhamdulilahnya, tak ada hal aneh lain yang terjadi.
Bukan tak ada lagi tapi, menanti.
~ Berakhir? ~
Komentar
Posting Komentar