Lentera 1939

 Riak Air Menjadi Saksi

Story Paisy


Bagian Satu

Langit cerah menandakan bahagia katanya, tapi tidak untuk seorang gadis berkepang dua yang mengendarai kuda. Di sekelilingnya, rumah-rumah warga telah banyak dilewati, bahkan ia sudah sampai di hutan. Pohon demi pohon dilalui sangat cepat, jadi terlihat bak lukisan abstrak. Kini jantung berdetak kencang, memacu kuda berlari terus menerus. Tidak sedang mengejar, tapi sedang dikejar. Entah memakai kuda siapa? Yang terpenting saat ini adalah tentang pelarian seorang gadis dari sang jendral penjajah.


Napas tak beraturan, benturan angin memecah ketakutan, membentuk keberanian. Kain tapihnya robek, namun benang-benang masih bertaut, sama seperti mereka. Ya, sekencang apa pun gadis itu memacu kudanya, tetap saja derap kaki kuda sang jendral yang paling menggetarkan tanah.


"Hei, tolong lebih cepat…” ucap getir gadis itu pada kudanya, ia memegang teguh tali kuda dengan berusaha keras untuk tenang. Sementara di belakangnya, sang jenderal mengambil anak panah, siap tuk memanah kaki kuda incarannya.


Tubuh yang sudah terbiasa dengan larian sang kuda, mengamati lawannya begitu mudah. Jiwa sang jenderal terus membisikkan namanya, walau dalam raga pun dia sadar jemarinya menarik ujung anak panah dan satu tangan lainnya memegang gagangnya sambil duduk di kuda, itu terlihat sangat lihai. Kedua bola mata biru, sebiru langit gelap bersama semua gemuruhnya—elok nan indah. Menatap tajam bagian yang ingin dipanah olehnya. 


Dalam hitungan tepat, anak panah menancap. Draaap! Kuda itu jatuh. Begitu pula dengan Tera… seketika tubuhnya penuh goresan akibat batu-batu. Si kuda meringkik kesakitan, tanah mulai meresap darah merahnya. Tera menyaksikannya dengan berpasang wajah perih. Apa sekarang tak ada harapan lagi? Pikirnya. 


Badai itu menghampiri.


Langkah kaki sang jenderal tegas. Sepatu botnya menginjak para rumput, tapi ini bukan hanya sekedar rumput. Ada banyak kehidupan terinjak di bawahnya. Sesampai ia berdiri di hadapan gadis yang tengah meringis perih akan luka. Akankah dia bergerak? 


Ya. Satu sepatu botnya menapak tanah dengan lengan di atas paha dan sisi lainnya, tibia yang kuatnya menyentuh tanah. Kali ini dia mengambil napas, mengambil mental diri sendiri bukan jiwa siapa pun, “Tera… apa kamu masih ingat aku?” tanya sang jenderal bermuka tenang. Wajahnya nyaris bak pohon teduh berbuah manis.


Satu, tiga, dan lima detik hanya angin yang menjawab; tidak.


Kedua mata gadis itu berwarna coklat tua seperti tanah ini, bingung menyertai kebencian dari injakan ragu sang jendral.


Namun, sang jenderal tetap kokoh di atas penolakan gadis pujaannya. Salah satu tangannya merogoh saku mantel tebal—satu stel dengan seragam militer. Dia mengeluarkan secarik kertas, terlipat rapi sempurna, dan usang … mungkin sudah tersimpan lama bersama rasa.


Di atas kertas, terukir dua aksara. Aksara Java dan Netherland. Keduanya memiliki ciri khas berbeda, tapi tersimpan seribu kenangan untuk mereka berdua. Dia menunjukkan kertas itu pada Tera, tampak juga dua foto kecil di sana. Usang? Tak juga, hanya memudar. Foto itu dilukiskan oleh alat penangkap kenangan buatan Jerman.


Tera en Michael…” suaranya lembut, terdengar bagai kain sutra, bagai air yang menyimpan segala ketulusan. Namun apakah ketulusan itu diterima? Ingat, air juga menyimpan keruhnya.


Tera menatap perlahan, di sana terdapat foto dua anak kecil, dirinya dan Michael yang berbeda. Berbeda ras, juga status. Perbedaannya tampak jelas itu bisa melebur menjadi sebuah kenangan hangat. Perlahan ia mengambil kertas darinya.


“Apakah saya pernah kejam pada kamu, Tera?” tanyanya menggunakan bahasa lahir, bukan bahasa ibunya. Saat ini bukan tentang bahasa dan logat ibunya, tapi ini tentang rasa bersalah terselip dalam suaranya juga suasananya.


Tera mengangguk mantap, mengiyakan gagasan tersebut. Tatapannya semakin tajam, masih membenci. “Saya benci bangsamu. Ini tanah kami, dan kalian seenaknya berlagak sebagai pemilik!”






Bagian Dua

Michael menggeleng cepat, menangkis pernyataan menusuk itu. “Tidak, Tera… itu bukan seperti yang kamu pikirkan!” ucapnya tegas, kedua tangannya memegang bahu Tera, menyatakan bahwa dia mengaku jujur. “Iya, memang benar bagi perlakuan ayah kepada kalian. Tapi aku janji, Tera, aku tidak akan. ”


Udara sejuk menyerbu, harum bunga-bunga liar memeluk mereka seperti janji manis itu. Apa benar sang penjajah akan menepati janji itu? Janji untuk tidak seperti ayahnya.


Embun pagi berbaur dengan wangi rumput berembun bersanding aliran sungai di belakang Tera. Gemericik air terjun kecil yang tak jauh terdengar sampai kemari, sampai ke telinga mereka. Helaan nafas sang gadis terbang bersama daun-daun cantik. Kini, sepasang bola mata coklat menatap penuh kedua bola biru.


Sebagian dari pucuk kain seragam militer sang jenderal penjajah bergoyang-goyang terlena akibat hembusan angin pagi sejuk. Si gadis pribumi dihadapannya, belum mengetahui secara pasti tentang status dari mulut teman kecilnya.


"Kamu seorang seorang Jenderal KNIL?" Tera berani bertanya. Namun, itu pernyataan yang dilontarkan dari hasil pengamatan kedua bola mata coklat gelap miliknya.


(Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger)


Tera melihatnya. Ia tidak berpura-pura tidak menyadari semua bordiran simbol itu. Mulai dari bagian kanan, bendera merah, putih, biru—Belanda. Hanya satu, itu saja melambangkan tentara belanda garis keras. Di seberangnya, bagian kiri merupakan tempat singgah simbol Organisasi KNIL dan lencana-lencana kebanggaan.


Siapa yang tidak mengira dia seorang jenderal? tidak ada. 


Dia salah satu jenderal KNIL. Tentara yang dibentuk dari kebanyakan pribumi dibawahnya. Di atas? tetaplah para Londo yang menjadi bos. Para pribumi dikumpulkan, entah mereka dipaksa, terpaksa, atau malah mencari keuntungan. Mereka dididik untuk mengatasi sampai memerangi sedarah, sebangsa, setanah air.


Tera tahu kebenarannya, semakin membenci lah ia pada semua londo berlagak bos seperti itu. 


Tapi, percaya lah... 

Bangsa Eropa lebih menyukai strategi Divide et Impera.

Menurut mereka, itu lebih menyenangkan daripada menindas langsung.


Anggukan sederhana yakin. “Iya.” nada suara menurun, apa mungkin sang jenderal malu? dia bersalah.


Tera langsung melempar jawaban yang menusuk seperti belati menancap hati. “Pilihan yang bagus. Bagus untuk menginjak-nginjak inlander.” ucapnya tegas dan berat. Tera sudah membuang jauh semua rasa senang-riang dimana ketika dia bersamanya.


~ bersambung ^^ ~


NOTE : Author sedang butuh lebih banyak istirahat, jadi dia akan lebih sedikit update.

Terima kasih telah membaca!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu Siapa?

Perempuan Berseragam Biru