Kasih dari Halus
Kasih dari Halus
Story Paisy
Semua orang tahu bahwa dunia ini tidak hanya satu. Ada banyak makhluk di dunia bumi ini yakni manusia, hewan, dan tumbuhan. Semua dari mereka memiliki jiwa raga masing-masing. Lantas bagaimana dengan dunia selain dunia itu? Apakah ada makhluk yang hanya memiliki jiwa saja? Apa mereka hidup dengan benar tanpa adanya raga nyata? Apa makhluk pemilik jiwa hidup berdampingan dengan makhluk pemilik jiwa raga? Di kisah ini, kamu akan tahu semuanya.
Mari berkenalan dengan gadis pemilik jiwa raga yang bisa memakai keduanya sesuka hati. Semoga kamu tidak merasakan apa yang sang gadis rasakan. Sungguh itu sangat menegangkan, menakutkan, menyeramkan, menyerang mental dan pikiran jika tidak kamu tahan. Maka, berhati-hatilah.
~~~
Siang bolong karena matahari bundar menyinari dataran bumi. Serangkaian udara halus menyerbu daun-daun pohon bertunas hijau di depan rumah, itu milik tetangga. Menyejukkan pikiran jikalau gadis itu keluar bermain bersama saudara sedarahnya, tetapi sekarang ia hanya memiliki sepupu.
Dua Sepupu yang diharapkan bisa menjadi teman bicaranya sesekali itu tidak pernah menghampirinya. Sesama gadis perempuan seharusnya saling bermain bersama, namun tidak untuk gadis yang dicampakkan entah apapun alasan.
Kedua gadis sepupunya melintasi gang rumah gadis itu sembari bercengkrama riang gembira. Gadis itu, Saina melihat dari dalam, dari jendela besar rumah tua. Menatap meragu akan dirinya memunculkan pertanyaan apakah aku tidak pantas ditemani? Itulah awal mulanya. Cukup dilihat saja, sudah jelas umur memang memperlihatkan segalanya. Mereka bertiga sangat muda, tahun kesepuluh dari kelahirannya. Sudah dipastikan, hati gadis itu hancur berkeping seketika.
Aku benci! Kenapa mereka selalu main tanpa mengajak aku lebih dulu? Sengsara aku ditinggal sendiri bersama sepi akan terus menggerogoti palung hati. Andai aku punya teman sedikit saja…
Saina bergegas lari ke kamar, menangis di atas bantal, dan lama kelamaan tertidur tanpa sadar. Dalam bunga tidur, jiwa Saina terbangun dengan sekeliling yang amat sama dalam kamarnya, tetapi banyak makhluk menyerupai manusia di sekitar Saina. Mereka hitam, benar benar hitam tidak memperlihatkan mata ataupun mulut, hanya bentuk tubuh saja. Dalam kondisi saat ini, entah mengapa Saina tidak bisa berpikir apapun, pikirannya kosong serta hanya mampu melihat mereka tanpa merespon apapun.
Salah satu dari mereka mengulurkan tangan kiri pada Saina, seolah itu ajakan. Makhluk yang lainnya pun ikut berdiri melingkar, kemudian satu persatu menaruh tangan kiri mereka secara bertumpuk. Saina tanpa sadar menerima uluran tangan makhluk itu, dia berdiri dan menengok ke arah makhluk lainnya… oh! Mereka ingin main petak umpet.
~~~
Entah secara singkat, mimpi itu bergerak cepat, Saina mendapat bagian bersembunyi. Gadis itu gundah-gulana resah ingin bersembunyi di mana? Yap! Di ruang tamu rumah nenek ternyata terdapat tangga menuju loteng. Perlahan keki itu melangkah naik ke atas dengan ragu, namun cepat sedikit.
Benar saja, keraguan itu benar apa dayanya. Tatapan sepasang bola mata ada di mana-mana, menempel lengket di dinding kumuh penuh sarang laba-laba. Anehnya, Saina sama sekali acuh tak acuh dengan semua pemandangan berdebu di hadapannya. Ia malah fokus untuk mencari tempat bersembunyi. Sangkanya, Kakinya lemah dalam merasakan sesuatu saat ini, bahkan lantai kayu kasar itu tak bisa melukai telapaknya yang lembut nan halus.
Komentar
Posting Komentar